Saturday, April 3, 2010

Punya Anak dengan MBA atau Susah Punya Anak

Anak adalah rejeki terbesar dalam hidup bagi wanita dan pasangan suami istri. Bersyukurlah jika anda pasangan suami istri yang setelah menikah diberi kemudahan Allah untuk memiliki buah hati. Namun bagi yang memiliki kendala tentu merupakan ujian yang cukup berat walaupun kita tersenyum ketika ditanya apakah kita telah hamil, apakah telah memiliki momongan atau berapa anak kita? Batin kita kadang pada mulanya sabar namun lama-lama stres yang didapat. Segala daya upaya telah dilakukan dari berdoa, berobat medis sampai alternatif tetapi anugerah itu belum juga datang. Pertanyaan itu akan terus ada sampai buah hati datang. Berbeda ketika memiliki anak dengan MBA biasanya lebih mudah, menjadi bahan pergunjingan hanya sementara setelah itu orang akan lupa. Bahkan ada juga masyarakat yang menganggap hal wajar untuk zaman sekarang. Sayangnya ada juga yang memilih untuk menggugurkan janin dalam kandungan dibandingkan melahirkannya kedunia ini karena rasa malu akan aib yang dimiliki. Disisi lain begitu banyak pasutri yang mendambakan keturunan namun susah mendapatkannya. Jika anda dihadapkan pada dua pilihan antara mudah memiliki anak tetapi MBA atau menikah namun belum mendapatkan buah hati mana yang akan dipilih? Pilihan pertama diduniawi terlihat lebih enak namun jangan lupa ini juga ujian yang terkandung dosa dalam bentuk relatif lebih enak. Sedangkan pilihan kedua benar-benar ujian dunia dalam bentuk relatif tidak enak namun jika sabar dan bersyukur akan keadaan yang diterima insya Allah pahala yang didapat. Anda pasti tidak akan memilih keduanya termasuk saya. Namun apa yang terjadi dengan saya? Saya adalah orang yang bersyukur dikarunia buah hati relatif cepat setelah menikah namun sempat mengalami keguguran pada kehamilan pertama. Alhamdulilah, kehamilan kedua kami mendapat seorang puteri. Proses kehamilan kedua tidaklah mudah karena kandungan yang lemah yang mengharuskan menjaga kehamilan. Walaupun begitu diharuskan bedrest pada usia kehamilan 7 bulan. Bedrest selama sebulan karena sempat merasakan kontraksi dini. Sejak itu, aku menjadi seseorang yang tidak ingin banyak bertanya kepada orang lain. Ketika orang lain bercerita barulah saya akan berbagi pengalaman. Pernah merasakan ujian dalam hidup maka seseorang akan lebih termotivasi untuk berusaha toleran dan mengerti orang lain. Selain itu, untuk memberi adik bagi anakku kemungkinan lebih susah karena kehamilan saya yang berikutnya termasuk kategori resiko tinggi. Hanya Allah yang tau apakah masih bisa atau tidak yang penting berusaha dan berdoa. Seperti syair dalam lagu jangan menyerah oleh D'masiv.

No comments:

Post a Comment