Rejang Lebong beribu kota di Curup merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Bengkulu. Ada dua pintu masuk menuju wilayah Curup. Pertama, perjalanan darat selama 2-3 jam sejauh 85 km menuju Rejang Lebong dari ibukota Propinsi Bengkulu. Kedua, 1,5-2 jam dari kota Lubuk Linggau Sumatera Selatan. Rejang Lebong disebut Bumei Pat Petulai suatu wilayah yang berada di salah satu jajaran punggung Bukit Barisan. Otomatis Rejang Lebong memiliki topografi yang berbukit hingga bergelombang. Dengan kondisi fisik tersebut maka wilayah ini memiliki keunggulan dan kelemahan. Berdasar topografinya menurut saya, ada keunggulan yang dimiliki Rejang Lebong antara lain menjadi daerah agraris yang berhawa sejuk dan kondisi fisik yang masih alami. Hal ini merupakan salah satu modal dasar bagi pengembangan di sektor pertanian dan pariwisata. Sedangkan ada juga beberapa kelemahan yang pertama adalah letak geografis di punggung bukit barisan yang merupakan daerah patahan ditambah lokasi relatif dekat dengan pertemuan dua lempeng bumi di samudera Hindia maka daerah ini sangat rawan gempa. Saya sering merasakan gempa yang relatif kuat terjadi di wilayah ini. Kedua adalah aksesibilitas dari ibukota propinsi yang jauh dan terbatas karena melalui jalan relatif sempit berkelok naik turun melewati perbukitan membuat kondisi jalan rawan longsor dan rusak. Padahal aksesibilitas merupakan salah satu modal penting bagi perkembangan suatu wilayah. Pertama kali datang dari Bandara Fatmawati Bengkulu saya dijemput saudara menggunakan mobil dengan lihainya melewati jalan sempit berkelok melintasi perbukitan. Selama dalam perjalanan saya terus mengomentari dan tentu saja jantung dag dig mengingatkan supaya berkendara lambat yang penting selamat. Alhasil ibu saya nyletuk kalau pelan kapan kami sampai di Curup ? Jalan lintas perbukitan menuju Curup yang istimewa membuat saya sempat terheran-heran ketika didepan mobil yang saya tumpangi terdapat truk puso super besar berusaha melewati keistimewaan jalan lintas perbukitan ini atau bus umum ukuran jumbo dengan suara mesin menderu mencoba melintasi jalanan berkelok naik. Waw, sungguh luar biasa yang pasti membutuhkan keahlian berkendara yang telah terbiasa dengan kondisi jalanan istimewa. Saya juga bertanya dengan kondisi lalu lintas jalan lintas perbukitan yang sepi apakah aman jika dilewati malam hari. Menurut bapak saya jalan lintas perbukitan Bengkulu-Curup relatif aman hanya kita perlu sedia payung sebelum hujan. Periksa kendaraan sebelum berangkat berpergian jika melewati jalan lintas perbukitan Bengkulu-Curup terutama membawa ban cadangan. Hal ini disebabkan jalan disepanjang perbukitan hanya satu tempat tambal ban. Rute perbukitan Bengkulu-Curup relatif aman dari kejahatan dibandingkan rute perbukitan Lubuk Linggau-Curup. Bagi yang ingin menikmati keindahan pemandangan dari atas bukit maka kita dapat berhenti di lokasi yang sebenarnya difungsikan untuk tempat istirahat para pengemudi kendaraan bermotor. Beberapa tempat tersebut ada yang terdapat warung sederhana menjual makanan minuman.
Setelah saya tinggal di Rejang Lebong ada yang menarik perhatian saya yaitu pola lokasi pusat kegiatan ekonomi yang mirip dengan di Yogyakarta. Jika di Yogyakarta terdapat kawasan Malioboro dengan pasar tradisional Beringharjo maka di Rejang Lebong ada kawasan Pasar Tengah dengan pasar Bangmego. Ada juga perbedaannya. Yang pertama adalah skala kegiatan ekonomi di kawasan Pasar Tengah relatif jauh lebih kecil dibanding kawasan Malioboro yang telah dikenal pada tingkat nasional bahkan internasional. Untuk pasar tradisional Bangmego dan Beringharjo relatif sama. Kedua, para pelaku kegiatan ekonomi di kawasan Pasar Tengah-Bangmego didominasi masyarakat Tionghoa dan Minang. Sedangkan kawasan Malioboro-Beringharjo lebih beragam namun didominasi masyarakat Tionghoa, India, Jawa, dan lain-lain. Ketiga aksesibilitas kawasan Malioboro-Beringharjo dibuat searah karena sangat padatnya arus lalu lintas sedangkan kawasan Pasar Tengah-Bangmego masih dua arah. Keempat, dikawasan Pasar Tengah mayoritas aktivitas ekonomi masih menggunakan penawaran harga sedangkan di kawasan Malioboro mayoritas harga tetap. Di kawasan Pasar Tengah ada beberapa toko tertentu yang memasang harga tetap seperti toko kue, makanan,minimarket. peralatan tulis, toko buku majalah, dan apotek. Untuk Pasar Bangmego dan Beringharjo aktivitas ekonomi sama-sama dilakukan dengan penawaran harga. Hal inilah yang membuat saya pada awalnya takut untuk berbelanja dikawasan Pasar Tengah-Bangmego saat pertama datang ke Curup Rejang Lebong. Kelima, dikanan kiri sepanjang kawasan pertokoan Malioboro terdapat para pedagang yang menjual aneka barang dimana penawaran harga diperlukan dalam bertransaksi sedangkan hal tersebut tidak dijumpai di kawasan pasar tengah. Sama dengan daerah lain maka tidak lama lagi "mall" akan segera didirikan di Kota Curup. Bagaimanakah keberlangsungan kegiatan ekonomi masyarakat yang telah ada sebelumnya akan dapat bertahan dengan berdirinya "mall" ? Atau "mall" tersebut akan bernasib sama dengan "mall" yang ada di kabupaten Kepahiang ? Dengan kondisi sosial ekonomi penduduk Rejang Lebong apakah pembangunan "mall" tepat waktu, sasaran, dan lokasi? Semoga sebelumnya pemerintah daerah dan pengembang telah memikirkannya secara matang prospek keberlangsungan "mall", dampak terhadap ekonomi daerah pada umumnya, dan khususnya bagi pelaku ekonomi yang telah ada sebelumnya.
Datang kesuatu wilayah maka tidak lengkap jika tidak berbicara tentang obyek wisata dan kekhasan baik tarian juga makanan. Nah, bagi pendatang di Rejang Lebong sebenarnya banyak potensi alam yang sangat menarik namun karena keterbatasan modal maka hanya beberapa yang telah dikembangkan itupun belum optimal diantaranya Danau Mas Harun Bastari, sumber air panas Suban, dan Bukit Kaba. Selain itu terdapat wisata alternatif seperti kolam renang Muna Tirta, tempat bermain anak Happy World seperti Time Zone tetapi lebih kecil, dan Kebun Binatang (milik perorangan). Keindahan alam dengan hawa yang sejuk menjadi andalan namun belum ditunjang dengan fasilitas yang memadai dan kurangnya perawatan dari obyek wisata. Hal ini disebabkan salah satunya karena terbatasnya anggaran pemerintah daerah untuk mengembangkannya. Sehingga peran pemerintah sangat besar agar dapat menarik investor bagi pengembangan pariwisata di Rejang Lebong termasuk banyak potensi alam diantaranya Danau Talang Kering, Air Terjun Kepala Curup, Air Terjun Curup Embun, serta perkebunan teh dan beberapa potensi alam lainnya yang belum dikembangkan menjadi obyek wisata. Rejang Lebong juga telah tersedia hotel, penginapan, dan villa yang dapat mendukung sektor pariwisata walaupun belum termasuk sebagai hotel berbintang. Fasilitas penginapan dan villa telah didirikan di sekitar obyek wisata air panas Suban dan Danau Mas Harun Bastari. Bahkan di Suban telah dibangun kolam renang dilengkapi persewaan perlengkapan renang seperti ban pelampung. Nah untuk danau Mas Harun Bastari yang paling berkesan selain danau adalah pemandangan disekitar obyek wisata tersebut. Kawasan agropolitan di dataran tinggi sewaktu sore hari saat udara cerah sangat indah. Sepanjang jalan kita jumpai berbagai hasil pertanian yang dijual ditepi jalan seperti jagung mentah/rebus, strawberry, pepaya, dan lain-lain. Perbankan nasional, swasta, lokal telah terdapat di wilayah Rejang Lebong jadi jangan khawatir jika membutuhkan transaksi keuangan termasuk jaringan atm bersama. Bank yang ada antara lain BCA, BNI, BRI, Mandiri, Syariah Mandiri, dan Bank Bengkulu. Fasilitas kesehatan terdiri dari puskesmas, RSUD Curup dalam taraf renovasi, RS DKT, Klinik Permata Bunda, dan praktek dokter serta apotek.
Sebagai daerah agraris maka potensi pertanian menjadi andalan salah satunya tanaman kopi. Biasanya orang tua saya pulang ke Yogyakarta membawa oleh-oleh kopi sebagai khas Rejang Lebong. Makanan khas umumnya hampir sama dengan wilayah lain di Pulau Sumatera seperti lempok yang terbuat dari durian. Wisata kuliner yang ada di Curup diantaranya aneka makanan khas Padang. Makanan khas Palembang juga dapat dijumpai seperti kemplang, aneka kerupuk ikan, empek-empek kapal selam, model, lenggang, tekwan, dan lain-lain. Berikut ini beberapa tempat wisata kuliner dapat saya rekomendasikan berdasar pengalaman pribadi. Pertama, masakan khas Padang, saya jamin kelezatannya terutama di rumah makan Sri Etek. Kedua, merasakan enaknya model ikan dan mie celor maka datanglah sepanjang kawasan Pasar Tengah terdapat tiga warung makan yang menjualnya termasuk empek-empek kapal selam. Namun, saya pribadi lebih menyukai model di warung Nur. Ketiga jika ingin memanjakan lidah dengan kuah empek-empek kapal selam dan lenggang yang kental dengan telur bebek asli maka datanglah ke sebuah warung di daerah Talang Bening. Keempat, martabak Bangka dengan berbagai isi sesuai selera dijual di pinggiran jalan kawasan Pasar Tengah pada sore hari. Kelima ingin menikmati aneka kue dan tart yang enak maka toko kue Rose dan Harum menjadi pilihan. Keenam, menyukai tongseng kambing maka warung makan Mataram dapat menjadi pilihan. Masih banyak tempat lain yang menawarkan kelezatan makanan tetapi bagi anda dapat mencicipi minimal dikeenam tempat tersebut maka telah meninggalkan kesan tersendiri akan kota Curup. Namun, ada makanan khas nenek moyang masyarakat Bengkulu pada umumnya yaitu Kue Tat. Kue dengan campuran kelapa sangat enak dengan selai nanas diatasnya. Warga Curup pada umumnya memiliki keahlian memasak termasuk membuat kue. Kue yang sangat lezat, jarang dan berbeda daripada di Jawa adalah kue lapis dan matsuba. Matsuba mirip dengan kue lapis tetapi rasa susu dan telur yang mendominasi. Kue lapis terutama yang memiliki kreasi warna dan lapisan membuatku terkesan membayangkan pembuatannya yang membutuhkan waktu, kesabaran, serta kreatifitas. Sayang keinginan saya untuk belajar proses pembuatannya terkendala kesibukan mengurus buah hati tercinta.
Kondisi sosial budaya Rejang Lebong dengan penduduk asli adalah suku Rejang dan Lembak. Pembauran telah terjadi dengan pendatang sehingga ada suatu daerah yang namanya Kampung Jawa, Kampung Melayu, Karanganyar, Kampung Bali, Pekalongan,dan lain-lain. Untuk Kampung Bali dan Pekalongan saat ini bukan lagi termasuk wilayah Rejang Lebong tetapi Kepahiyang sejak tahun 2003. Selain itu kerukunan dan toleransi antar umat beragama patut diacungi jempol. Saya akan posting pengalaman ini di lain waktu. Rejang Lebong memiliki tari yang sangat khas yaitu Kejei. Tari Kejei merupakan tari khusus persembahan yang tidak sembarangan ditarikan. Namun ditarikan pada saat acara menyambut tamu agung pada saat berkunjung pertama kali diwilayah ini. Setelah itu tidak ditarikan pada kunjungan berikutnya karena telah dianggap warga setempat. Selamat menikmati dan cintailah indonesia.
mbak,aku mau tanya.
ReplyDeletekira-kira hotel di curup yang bagus itu apa ya?dan kira-kira berapaan ya?
Yes, So Awesome View in Rejang Lebong Land...👍👍😊😊
ReplyDelete